Monday, April 8, 2013

My Flash Fiction # 1

Bram menghela nafas berat, jutaan jarum yang menancap di hatinya menusuk makin dalam. Perih, rasa sakit kian terasa saat melihat wajah lembut di hadapannya mengisak tangis.

Butiran berlian itu mengalir membasahi pipi Nana. Ingin sekali Bram menyentuhnya, dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Lalu berbisik, "Jangan menangis, Sayang, jangan menangis. Air matamu terlalu berharga jika harus menetes untuk orang yang telah membuat hatimu terluka."

Tapi Bram hanya membeku, tak ada satupun yang bisa ia lakukan, kecuali membiarkan Nana menangis.