Sabtu pagi. Jarum jam di tanganku menunjukkan angka 9 lebih 20 menit. Kupijakkan kakiku di halaman sebuah kafe yang terletak di kawasan Gandaria, Selatan kota Jakarta. Angin sejuk menyentuh wajahku dan memainkan ujung kerudung pink keunguan yang menemaniku hari ini. Kuhembuskan napas panjang, menengadah ke langit berucap syukur kepada Sang Pencipta Hari.
♥♪ Kirana ♫♥
Tuhanku, Engkaulah Matahariku.. ke mana pun aku berlari, hanya Engkau yang Setia menemani.. Ajarkan aku setia kepada-Mu... ~ The Story of Kirana ~
Saturday, October 3, 2015
Monday, April 8, 2013
My Flash Fiction # 1
Bram menghela nafas berat, jutaan jarum yang menancap di hatinya menusuk makin dalam. Perih, rasa sakit kian terasa saat melihat wajah lembut di hadapannya mengisak tangis.
Butiran berlian itu mengalir membasahi pipi Nana. Ingin sekali Bram menyentuhnya, dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Lalu berbisik, "Jangan menangis, Sayang, jangan menangis. Air matamu terlalu berharga jika harus menetes untuk orang yang telah membuat hatimu terluka."
Tapi Bram hanya membeku, tak ada satupun yang bisa ia lakukan, kecuali membiarkan Nana menangis.
Butiran berlian itu mengalir membasahi pipi Nana. Ingin sekali Bram menyentuhnya, dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Lalu berbisik, "Jangan menangis, Sayang, jangan menangis. Air matamu terlalu berharga jika harus menetes untuk orang yang telah membuat hatimu terluka."
Tapi Bram hanya membeku, tak ada satupun yang bisa ia lakukan, kecuali membiarkan Nana menangis.
Subscribe to:
Posts (Atom)